Jumat, 02 Maret 2012

makalah mangga


BAB I
1.     Latar belakang
Mangga yang berkembang di Indonesia berasal dari India. Orang India mempunyai kepercayaan bahwa mangga adalah penjelmaan dewa Prajapati.
Orang asing yang pertama melihat tanaman mangga adalah Alexander Agung pada tahun 327 SM. Sedangkan penulis pertama mengenai mangga adalah Huien T’sang pada tahun 632-445 SM. Kumphius (1741) ahli botani menyimpulkan bahwa tanaman mangga baru beberapa abad ditanam dikepulauan Asia.
Dari India mangga menyebar kesemenanjung malayasia dan sekitarnya. Penyebaran itu dibawa oleh pedagang India dan penyebar agama budha dan hindu, sekitar abad ke 4-5 SM. Mangga mulai ditanam pertama kali  dikepulauan Maluku pada tahun 1665. Sedangkan mangga okulasi baru diimpor dari India pada tahun 1911.
            2. Data Botani
Klafikasi botani tanaman mangga      
Divisi               : Spermatophyta
Sub divisi        : Angiospermae
Kelas               : Dicotyledonae
Keluarga          : Anarcadiaceae
Genus              : Mangifera
Spesies            : Mangifera spp.
Jenis yang banyak ditanam di Indonesia Mangifera indica L. yaitu mangga arumanis, golek, gedong, manalagi dan cengkir dan Mangifera foetida yaitu kemang dan kweni.

            3. Morfologi
Tanaman mangga tumbuh berupa pohon, berbatang tegak, bercabang dan banyak ranting bbertajuk rindang dan hijau sepanjang tahun tinggi pohon mangga bisa mmencapai  10-14 meter umur pohon bisa mencapai 100 tahun.
Morfologi pohon mangga terdiri atas  akar, batang, daun, bunga, bunga menghasilkan pelok yang secara generatif dapat tumbuh menjadi tanaman baru. Bisa juga secara vegetatif, yaitu  dengan cara air layerage (cangkok), okulatie ( tempel), sambung maupun stek atau kultur jaringan.
            3.1  Akar
            Akar mangga berbentuk tunggang yang sangat panjang, bisa mencapai 6 meter atau lebih. Pemanjangan akar akan berhenti  kalau ujung akar telah mencapai permukaan air tanah.
Sesudah fase perpanjangan akar tunggang berhenti lalu terbentuk akar cabang di bawah permukaaan tanah jumlah akar cabang  makin kebawah makin sedikit. Paling banyak  akar cabang terdapat pada kedalaman 30-60 cm. Dibawah permukaaan tanah.
            3.2  Batang
Mangga tumbuh  berupa  pohon dengan  batang tegak  batang itu berdahan berdahan  bercabang dan beranting banyak, cabang dan ranting berdaun lebat membuat tajuk berbentuk kubah, oval atau memanjang.
Kulit batang  pohon mangga tebal  dan kasar pada kulit batang  itu terdapat banyak celah-celah kecil dan sisik bekas tangkai daun warna kulit batang yang sudah tua cokelat ke abu-abuan. Kelabu tua sampai hampir tua.
            Pohon mangga yang berasal dari biji pada umumnya  berbatang tegak kuat dan tinggi, sedangkan pohon mangga dari  hasil vegetatif, berbatang pendek dan bercabang membentang.
            3.3 Berdaun Tunggal
Mangga berdaun tunggal tanpa anak daun penumpu, letaknya bergantian mengelilingi ranting. Panjang tangkai  daun  bervariasi antara 11,25-12,50 cm.  Bagian pangkal tangkai membesar sisi sebelah atas ada alurnya. Panjang daunnya 8-40 cm, lebar 2-12,5 cm.  Jumlah tulang daun 18-30 buah. Aturan letak daun pada batang  biasannya 3/8. Tetapi makin mendekati ujung leteknya saangat berdekatan, sehingga tampak dalam lingkaran.
Bentuk daun mangga ada yang seperti mata tombak, lonjong, dengan ujung seperti mata tombak, segi empat, tetapi berujung runcing seperti mata tombak, atau segi empat dengan ujung membulat, tepi daun halus, kadang- kadang  sedikit bergelombang atau melipat atau menggulung
Stomata terdapat pada permukaan daun, tetapi paling banyak  pada permukaan daun bawah, permukaan daun bagian atas hijau mengkilat, bagian bawah hijau muda. Daun yang masih muda berwarna kemerahan. Umur daun bisa mencapai  satu tahun.
            3.4 Bunga
Bunga mangga terangkai dalam tandan  sebagai bunga majemuk. Dalam keadaan normal bunga tumbuh dari tunas  ujung  rangkaian bunganya, berbentuk kerucut dan melebar di  bagian bawah  panjang nya  10-60 cm.
Bunga majemuk terdiri dari sumbu utama yang mempunyai banyak  cabang pertama, setiap cabang pertama  memiliki banyak cabang kedua, setiap cabang kedua memiliki cabang ketiga. Dan baru pada cabang ketiga mempunyai suatu kelompok tiga bunga, setiap kelompok   tiga bunga  terdiri dari  tiga kuntum bunga. Kuntum binga  itu bertangkai pendek berdaun kecil berbau harum.
Jumlah bunga  setiap tandan bunga berkisar antara 1000-6000 kuntum. Ukuraan bunga  kecil-kecil berdiameter 6-8 mm.  Setiap rangkaian terdapat bunga jantan dan bunga hermaprodit, hermaprodit adalah bunga berkelamin dua, jantan dan betina.
Jumlah bunga jantan terdapat lebih banyak dibandingkan bunga hermaprodit, bunga hermaprodit sangat menentukan terbentuknya buah, persentasenya dalam satu tandan berkisar dari1,25-77,9%.
Kelopak bunganya terdiri dari mahkota bunga berjumlah 5 daun bunga, kadang-kadang ada yang 4-8. Panjang daun mahkota bunga 2 kali panjang kelopak bunga.
Warna bunga mangga kuning pucat, sedang bagian tengah (perut)  terdapat garis timbul. Sebanyak 3-5 dengan warna kuning sedikit tua. Warna tepi daun mahkota putih, tetapi ketika akan layu berwarna kemerahan.
Benang sari bunga mangga ada 5, tapi yang subur hanya 1 atau kadang dua buah, yang lain steril. Benang sari yang subur biasanya hampir sama panjang dengan putik, panjangnya sekitar 2 mm, benang sari yang steril lebih pendek.
Warna kepala putik kemerah-merahan, warna itu akan berubah menjadi ungu pada waktu kepala sari membuka untuk memberi kesempatan tepung sari dewasa menyerbuki kepala putik. Bentuk tepung sari memanjang, panjangnya 20-35 mikron.

            3.5 Buah
Buah mangga termasuk kelompok buah berdaging. Panjang buah berkisar antara 2,5-30 cm. Bentuknya  ada yang bulat, bulat telur (elips). Bulat memanjang dan pipih.
Warna buah bermacam–macam, tergantung varietas.  Variasinya ada yang  hijau , kuning ,merah atau campuran masing-masing warna itu.
Ujung buah ada yang berbentuk runcing biasaanya disebut paruh, diatas paruh ada bagian yang membengkok disebut sinus. Yang dilanjutkan kebagian perut, bagain belakang perut disebut punggung.
Kulit mangga (eksokrap) tebal. Pada permukaan terdapat titik kelenjar daging buah mangga (mesokrap) ada yang tebal dan ada yang tipis, tergantung jenis dan varietasnya.
Daging buah mangga ada yang berserat dan ada yang tidak ada, ada yang berair dan ada juga yang tidak berair. Rasanya ada yang manis dan yang masam, warnanya ada yang krem, kuning  atau orange.

            4. Syarat Tumbuh
Didaerah tropis mangga  dapat tumbuh sampai daerah pegunungan setinggi 1300 m dpl. Namun pertumbuhan dan produksinya jelek yang paling cocok yaitu didataran rendah sampai pada ketinggian  500 m dpl.
            Pertmbuhan mangga dipengaruhi oleh ketinggian tanah dari permukaan laut. Setiap naik 130 m  waktu pembungaan mangga tertunda 4 hari. Sedangkan temperatur pertumbuhan yang optimum untuk mangga adalah berkisar 24o-27o C. Tapi masih bisa bertahan pada temperatur 4o-10o C. Tapi pertumbuhan dan produksi akan terganggu, sedangkan pada temperatur 42o-44o C. Masih bisa bertahan tapi pertumbuhan dan produksi terganggu.
Curah hujan minimal 1000 mm pertahun dan musim kering 4-6 bulan pertahun, setiap bulan rata-rata hujan tidak sampai 60 mm pertahun. Angin mempengaruhi produktivitas mangga, adanya angin kencang  akan mempercepat penguapan air dari tanah, air yang diperlukan banyak berkurang sehingga pertumbuhan mangga tidak  bisa optimal. Dampakl lain  buah mangga  banyak yang rontok, untuk menghindari pengaruh  negatif dari angin kencang, ditepi perkebunan mangga ditanami tanaman pematah angin.



BAB II
TEHNIK BUDIDAYA
1. Pengolahan Media Tanam
1) Persiapan
Penetapan areal untuk perkebunan mangga harus memperhatikan faktor kemudahan transportasi dan sumber air.
2) Pembukaan Lahan
a) Membongkar tanaman yang tidak diperlukan dan mematikan alang-alang serta menghilangkan rumput-rumput liar dan perdu dari areal tanam.
b) Membajak tanah untuk menghilangkan bongkahan tanah yang terlalu besar.
3) Pengaturan Jarak Tanam
Pada tanah yang kurang subur, jarak tanam dirapatkan sedangkan pada tanah subur, jarak tanam lebih renggang. Jarak tanam standar adalah 10 m dan diatur
dengan cara:
a) segi tiga sama kaki.
b) diagonal.
c) bujur sangkar (segi empat).

2. Teknik Penanaman
1) Pembuatan Lubang Tanam
Lubang tanam dibuat dengan panjang, lebar dan kedalaman 100 cm. Pada waktupenggalian, galian tanah sampai kedalaman 50 cm dipisahkan dengan galian dari kedalaman 50-100 cm. Tanah galian bagian dalam dicampur dengan pupuk kandang lalu dikeringanginkan beberapa hari. Masukkan tanah galian bagian atas diikuti tanah galian bagian bawah. Pembuatan lubang tanam dilakukan pada musim kemarau.
2) Cara Penanaman
Lubang tanam yang telah ditimbun digali kembali dengan ukuran panjang danlebar 60 cm pada kedalaman 30 cm, taburi lubang dengan furadan 10-25 gram.Polibag bibit digunting sampai ke bawah, masukkan bibit beserta tanahnya danmasukkan kembali tanah galian sampai membentuk guludan. Tekan tanah disekitar batang dan pasang kayu penyangga tanaman.
3) Penanaman Pohon Pelindung
Pohon pelindung ditanam untuk menahan hembusan angin yang kuat. Jenis yangbiasa dipakai adalah pohon asam atau trembesi.
3.  Pemeliharaan Tanaman
1) Penyiangan
Penyiangan tidak dapat dilakukan sembarangan, rumput/gulma yang telah dicabutdapat dibenamkan atau dibuang ke tempat lain agar tidak tumbuh lagi.Penyiangan juga biasa dilakukan pada waktu penggemburan dan pemupukan.
2) Penggemburan/Pembubunan
Tanah yang padat dan tidak ditumbuhi rumput di sekitar pangkal batang perludigemburkan, biasanya pada awal musim hujan. Penggemburan tanah di kebunmangga cangkokan jangan dilakukan terlalu dalam.
3) Perempelan/Pemangkasan
Pemangkasan bertujuan untuk membentuk kanopi yang baik dan meningkatkan produksi. Ketika tanaman telah mulai bertunas perlu dilakukan pemangkasan tunas agar dalam satu cabang hanya terdapat 3–4 tunas saja. Tunas yang dipilih jangan terletak sama tinggi dan berada pada sisi yang berbeda. Tunas dipelihara selama kurang lebih 1 tahun saat tunas-tunas baru tumbuh kembali. Pada saat ini dilakukan pemangkasan kedua dengan meninggalkan 2-3 tunas. Pemangkasan ketiga, 1 tahun kemudian, dilakukan dengan cara yang sama dengan pemangkasan ke-2.
4) Pemupukan
a) Pupuk organik
1. Umur tanaman 1-2 tahun: 10 kg pupuk kandang, 5 kg pupuk kandang.
2. Umur tanaman 2,5–8 tahun: 0,5 kg tepung tulang, 2,5 kg abu.
3. Umur tanaman 9 tahun: tepung tulang dapat diganti pupuk kimia SP-36, 50kg pupuk kandang, 15 kg abu.
4. Umur tanaman > 10 tahun: 100 kg pupuk kandang, 50 kg tepung tulang, 15kg abu.
Pupuk kandang yang dipakai adalah pupuk yang sudah tercampur dengantanah. Pemberian pupuk dilakukan di dalam parit keliling pohon sedalamsetengah mata cangkul (5 cm).
b) Pupuk anorganik
1. Umur tanaman 1-2 bulan : NPK (10-10-20) 100 gram/tanaman.
2. Umur tanaman 1,5-2 tahun: NPK (10-10-20) 1.000 kg/tanaman.
3. Tanaman sebelum berbunga: ZA 1.750 gram/tanaman, KCl 1.080
 gram tanaman.
4. Tanaman waktu berbunga : ZA 1.380 gram/tanaman, Di kalsium fosfat 970
gram/tanaman, KCl 970 gram/tanaman.
5. Tanaman setelah panen: ZA 2700 gram/tanaman, Di kalsium fosfat 1.940
gram/tanaman, KCl 1.940 gram/tanaman.
5) Peningkatan Kuantitas Buah
Dari sejumlah besar bunga yang muncul hanya 0,3% yang dapat menjadi buah yang dapat dipetik. Untuk meningkatkan persentase ini dapat disemprotkan polinator maru atau menyemprotkan serbuk sari diikuti pemberian 300 ppm hormon giberelin. Dengan cara ini, persentase pembentukan buah yang dapat dipanen dapat ditingkatkan menjadi 1,3%.

4. Panen
1. Ciri dan Umur Panen
Mangga cangkokan mulai berbuah pada umur 4 tahun, mangga okulasi pada umur5-6 tahun. Banyaknya buah panen pertama hanya 10-15 buah, pada tahun ke 10 jumlah buah dapat mencapai 300-500 buah/pohon. Panen besar biasanya jatuh dibulan September-Oktober.
Tanda buah sudah dapat dipanen adalah adanya buah yang jatuh karena matang sedikitnya 1 buah/pohon, warna buah arumanis/manalagi berubah menjadi hijau tuakebiruan, warna buah mangga golek/gedong berubah menjadi kuning/merah Buah yang dipetik harus masih keras.



2. Cara Panen
Pada saat pemetikan, buah jangan sampai terpotong, tercongkel atau jatuh sampai memar. Buah dipetik di sore hari dengan menggunakan pisau tajam atau dengan galah yang diujungnya terdapat pisau dan keranjang penampung buah.
3. Periode Panen
Di Indonesia pohon mangga berbunga satu tahun sekali sehingga panen dilakukan satu periode dalam satu tahun. Dari satu pohon, buah tidak akan masak bersamaan sehingga dilakukan beberapa kali panen.
4. Perkiraan Produksi
Pohon muda okulasi menghasilkan 50-100 buah/tahun, meningkat sampai 300-500 buah pada umur 10 tahun, 1.000 buah pada umur 15 tahun dan 2.000 buah pada waktu produksi maksimum di umur 20 tahun.
5. Pascapanen
1. Pengumpulan
Buah hasil panen dikumpulkan di tempat yang teduh.
2. Penyortiran dan Penggolongan
Mangga yang rusak dipisahkan dengan mangga yang mulus. Setelah sortasi buah mangga dilap untuk menghilangkan getah yang dapat menurunkan mutu terutama jika buah akan dipasarkan ke pasar swalayan atau luar negeri.Buah yang akan dipasarkan di dalam negeri dapat diperam untuk mempercepat pemasakan. Sortasi didasarkan berat buah atau ukuran buah. Kelas berdasarkan berat buah antara lain:
a) Kelas I: > 320 gram/buah
b) Kelas II: 270 - 320 gram/buah
c) Kelas III: 200 - 270 gram/buah
Sedangkan berdasarkan ukuran buah dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
a) Klasifikasi Besar: arum manis > 17,5 cm, golek > 20 cm
b) Klasifikasi Sedang: arum manis 15 - 17,5 cm, golek 17,5 - 20 cm
c) Klasifikasi Kecil: arum manis < 15 cm, golek < 17,5 cm
3. Penyimpanan
Buah mangga yang telah dipetik disimpan ditempat yang kering, teduh dan sejuk.
BAB III
HAMA DAN PENYAKIT
1. Hama
1) Kepik mangga (Cryptorrhynoccus gravis)
Menyerang buah dan masuk ke dalamnya. Pengendalian: dengan semut merah yang menyebabkan kepik tidak bertelur.
2) Bubuk buah mangga
Menyerang buah sampai tunas muda. Kulit buah kelihatan normal, bila dibelah terlihat bagian dalamnya dimakan hama ini. Pengendalian: memusnahkan buah mangga yang jatuh akibat hama ini, menggunakan pupuk kandang halus, mencangkul tanah di sekitar batang pohon dan menyemprotkan insektisida ketanah yang telah dicangkul.
3) Bisul daun(Procontarinia matteiana.)
Gejala: daun menjadi berbisul dan daun menjadi berwarna coklat, hijau dan kemerahan. Pengendalian: penyemprotan buah dan daun dengan Ripcord,Cymbuth atau Phosdrin tiga kali dalam seminggu, membakar daun yang terserang, menggemburkan tanah untuk mengeluarkan kepompong dan memperbaiki aerasi.
4) Lalat buah
Gejala: buah busuk, jatuh dan menurunkan produktivitas. Pengendalian: dengan memusnahkan buah yang rusak, memberi umpan berupa larutan sabun atau metil eugenol di dalam wadah dan insektisida.
5) Wereng ( Idiocerus clypealis, I. Niveosparsus, I. Atkinsoni)
Jenis wereng ini berbeda dengan yang menyerang padi. Wereng ini menyerang daun, rangkaian bunga dan ranting sambil mengeluarkan cairan manis sehingga mengundang semut api untuk memakan tunas atau kuncup. Cairan yang membeku menimbulkan jamur kerak hitam. Pengendalian dengan insektisida Diazinon dan pengasapan seminggu empat kali.
6) Tungau (Paratetranychus yothersi, Hemitarsonemus latus)
Tungau pertama menyerang daun mangga yang masih muda sedangkan yang kedua menyerang permukaan daun mangga bagian bawah. Keduanya menyerang rangkaian bunga. Pengendalian dengan menyemprotkan tepung belerang, insektisida Diazinon atau Basudin.
7) Codot
Memakan buah mangga di malam hari. Pengendalian: dengan membiarkan semut kerangkeng hidup di sela daun mangga, memasang kitiran angin berpeluit dan melindungi pohon dengan jaring.

2. Penyakit
1) Penyakit mangga
Penyebab: jamur Gloeosporium mangifera. Jamur ini menyebabkan bunga menjadi layu, buah busuk, daun berbintik-bintik hitam dan menggulung. Pengendalian: fungisida Bubur Bordeaux.
2) Penyakit diplodia
Penyebab: jamur Diplodia sp. Tumbuh di luka tanaman muda hasil okulasi. Pengendalian: dengan bubur bordeaux. Luka diolesi/ditutup parafin-carbolineum.
3) Cendawan jelaga
Penyebab: virus Meliola mangifera atau jamur Capmodium mangiferum. Daun mangga yang diserang berwarna hitam seperti beledu. Warna hitam disebabkan oleh jamur yang hidup di cairan manis. Pengendalian: dengan memberantas serangga yang menghasilkan cairan manis dengan insektisida atau tepung belerang.
4) Bercak karat merah
Penyebab: jamur Colletotrichum gloeosporiodes. Menyerang daun, ranting, bunga dan tunas sehingga terbentuk bercak yang berwarna merah. Penyakit ini sangat mempengaruhi proses pembuahan. Pengendalian: pemangkasan dahan, cabang, ranting, menyemprotkan fungisida bubuk bordeaux atau sulfat tembaga.
5) Kudis buah
Menyerang tangkai bunga, bunga, ranting dan daun. Gejala: adanya bercak kuning yang akan berubah menjadi abu-abu. Pembuahan tidak terjadi, bunga berjatuhan. Pengendalian: fungisida Dithane M-45, Manzate atau Pigone tiga kali seminggu dan memangkas tangkai bunga yang terserang.
6) Penyakit Blendok
Penyebab: jamur Diplodia recifensis yang hidup di dalam lubang yang dibuat oleh  kumbang Xyleborus affinis). Lubang mengeluarkan getah yang akan berubah warna menjadi coklat atau hitam. Pengendalian: memotong bagian yang sakit, lubang ditutupi dengan kapas yang telah dicelupkan ke dalam insektisida dan menyemprot pohon dengan bubur bordeaux.
7.3. Gulma
Benalu memberikan kerusakan dalam waktu pendek karena menyebabkan makanan tidak diserap tanaman secara sempurna. Pengendalian dengan memotong cabang yang terserang, menebang tanaman yang diserang benalu dengan berat



















BAB IV
 ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA TANAMAN
1.Analisis Usaha Budidaya
Analisis biaya budidaya tanaman mangga dengan luas lahan 1 hektar selama 10 tahun di daerah Jawa Barat pada tahun 1999.
1) Biaya produksi
1. Sewa lahan kebun 10 tahun @ Rp. 1.500.000,- Rp. 15.000.000,-
2. Bibit 121 batang @ Rp.10.000,- Rp. 1.210.000,-
3. Pupuk
- Pupuk kandang 3 ton/tahun @ Rp. 60.000,- Rp. 1.800.000,-
- Urea 28 kg @ Rp. 1.115
Tahun ke 1 dan 2 @ Rp. 31.220,- Rp. 62.440,-
Tahun ke-3 Rp. 49.060,-
Tahun ke-4 Rp. 61.325,-
Tahun ke-5 s/d ke-10 @ Rp. 92.545,- Rp. 555.270,-
TTG BUDIDAYA PERTANIAN
Hal. 10/ 13
- TSP 11 kg @ Rp. 1.600,-
Tahun ke-1 Rp. 17.600,-
Tahun ke-2 Rp. 26.400,-
Tahun ke-3 Rp. 52.800,-
Tahun ke-4 Rp. 61.600,-
Tahun ke-5 s/d ke-10 @ Rp. 88.000,- Rp. 528.000,-
- KCl 11 kg @ Rp. 1.650,-
Tahun ke-1 Rp. 18.150,-
Tahun ke-2 Rp. 27.225,-
Tahun ke-3 Rp. 36.300,-
Tahun ke-4 Rp. 45.305,-
Tahun ke-5 s/d ke-10 @ Rp. 72.600,- Rp. 435.600,-
4. Pestisida
- Furadan 3 kg @ Rp. 12.500,- Rp. 370.500,-
5. Peralatan
- Cangkul 2 buah @ Rp. 10.000,- Rp. 20.000,-
- Koret 2 buah @ Rp. 5.000,- Rp. 10.000,-
- Parang 1 buah @ Rp. 7.000,- Rp. 7.000,-
- Sprayer 0,1 buah @ Rp. 25.000,- Rp. 25.000,-
6. Tenaga kerja
- Pembersihan lahan 30 HOK @ Rp. 7.500,- Rp. 225.000,-
- Pembuatan drainase 25 HOK @ Rp. 7.500,- Rp. 187.500,-
- Pengajiran 4 HOK @ Rp. 7.500,- Rp. 30.000,-
- Pembuatan teras piringan 20 HOK @ Rp. 7.500,- Rp. 150.000,-
- Pembuatan lubang tanam 15 HOK @ Rp. 7.500,- Rp. 112.500,-
- Pemupukan dasar 5 HOK @ Rp. 7.500,- Rp. 37.500,-
- Penanaman 7 HOK @ RP. 7.500,- Rp. 52.500,-
- Penyulaman 6 HOK @ Rp. 7.500,- Rp. 45.000,-
- Penyiangan 20 HOK/tahun @ Rp. 7.500,- Rp. 1.500.000,-
- Pemupukan 10 HOK/tahun @ Rp. 7.500,- (ke 2 -10) Rp. 675.000,-
- Perlindungan tanaman 4HOK/tahun @ Rp. 7.500,- Rp. 300.000,-
- Perbaikan drainase 12 HOK/tahun @ Rp. 7.500,- (2-9) Rp. 810.000,-
- Pemangkasan 10 HOK/th @ Rp. 7.500,- (ke-5 - 10) Rp. 450.000,-
7. Panen dan pasca panen
- Pemanenan
Tahun ke-5, 22 HOK @ Rp. 7.500,- Rp. 165.000,-
Tahun ke-6, 35 HOK @ Rp. 7.500,- Rp. 264.000,-
Tahun ke-7, 48 HOK @ Rp. 7.500,- Rp. 363.000,-
Tahun ke-8, 62 HOK @ Rp. 7.500,- Rp. 462.000,-
Tahun ke-9, 75 HOK @ Rp. 7.500,- Rp. 561.000,-
Tahun ke-10, 84 HOK @ Rp. 7.500,- Rp. 627.000,-
- Kemasan dan pemasaran
Tahun ke-5 Rp. 330.000,-
Tahun ke-6 Rp. 528.000,-
Tahun ke-7 Rp. 686.000,-
Tahun ke-8 Rp. 892.000,-
Tahun ke-9 Rp. 1.160.000,-
Tahun ke-10 Rp. 1.508.000,-
Jumlah biaya produksi dalam 10 tahun Rp. 32.479.675,-
2) Pendapatan
- Tahun ke-5: 5.500 buah @ Rp. 500,- Rp. 2.750.000,-
- Tahun ke-6: 8.800 buah @ Rp. 500,- Rp. 4.400.000,-
- Tahun ke-7: 12.100 buah @ Rp. 500,- Rp. 6.050.000,-
- Tahun ke-8: 15.400 buah @ Rp. 500,- Rp. 7.700.000,-
- Tahun ke-9: 18.700 buah @ Rp. 500,- Rp. 9.350.000,-
- Tahun ke-10: 20.900 buah @ Rp. 500,- Rp. 10.450.000,-
Jumlah Pendapatan Rp. 40.700.000,-
3) Keuntungan :
1. Dalam 10 tahun Rp. 8.220.325,-
4) Parameter kelayakan usaha
1. B/C rasio = 1,25











s
BAB V
KESIMPULAN
Jadi dalam usaha budidaya mangga ini perlu banyak aspek yang harus diperhatikan. Karena untuk mengahasilkan tanaman yang produktivitasnya tinggi maka perlu di beri asupan nutrisi yang cukup dan  harus memperhatikan keadaan lingkungan. Perhitungan iklim yang matang dan waktu penanaman serta pemeliharaan. Agar tidak terjadi kerugian.
 Tanaman mangga juga selain untuk tanaman depan rumah yang berfungsi sebagai peneduh, bisa juga menambah asupan nutrisi bagi keluarga petani tersebut. Juga membantu kesejahteraan petani dari penjualan mangga sehingga menaikan  tingkat kesejahteraan.
Untuk itu diharapkan kepada masyarakat Indonesia untuk menanam tanaman mangga ini, untuk penghijauan dan mengurangi global warming sesuai anjuran pemerintah yaitu one men one tree.
















DATAR PUSTAKA

1) Bambang Marhijanto, Drs & Setiyo Wibowo. 1994. Bertanam Mangga. Arkola. Surabaya.
2) Bonus Trubus No. 345. 1998. Celah-celah Usaha Terpilih
3) Pracaya, Ir. 1998. Bertanam Mangga. Penebar Swadaya. Jakarta
4) Rismunandar. 1990. Membudayakan Tanaman Buah-buahan. Sinar Baru Bandung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar